Khofifah Ingatkan MUI Jatim: Paparan Pornografi pada Anak Butuh Dakwah Khusus
SURABAYA, inklusinews.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan meningkatnya paparan pornografi pada anak menjadi tantangan serius yang harus dijawab melalui penguatan dakwah dan pendidikan moral. Karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur didorong memperluas pembinaan kepada keluarga dan generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Pengukuhan Pengurus, Komisi, Badan, dan Lembaga MUI Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030 di Aula Grahadi, Surabaya, Minggu (12/7/2026).
Acara itu dihadiri Ketua MUI Pusat KH Anwar Iskandar, Ketua MUI Jawa Timur Prof. Abdul Halim Subahar, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr. Andy Karyono, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Timur, serta seluruh pengurus MUI Jawa Timur yang dikukuhkan. Dalam kesempatan tersebut, Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama turut dilantik sebagai Wakil Sekretaris MUI Jawa Timur masa khidmat 2025–2030.
Dalam sambutannya, Khofifah mengungkapkan perkembangan teknologi digital telah menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan sosial masyarakat. Salah satunya adalah semakin mudahnya anak-anak mengakses konten pornografi yang berdampak pada perilaku dan kesehatan mental generasi muda.
Ia menyebut setiap hari terdapat sekitar 100 pasien anak yang menjalani penanganan di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya. Menurutnya, sebagian kasus tersebut berkaitan dengan tingginya paparan pornografi di kalangan anak-anak sehingga membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat.
“Ini menjadi tantangan besar bagi kita semua. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Peran ulama dan MUI sangat dibutuhkan untuk memperkuat dakwah dan memberikan edukasi kepada masyarakat,” ujar Khofifah.
Selain persoalan pornografi, Khofifah juga menyinggung sejumlah tantangan sosial lainnya, seperti meningkatnya kasus HIV, kerentanan kesehatan mental, hingga tingginya angka dispensasi perkawinan di beberapa daerah. Menurutnya, berbagai persoalan tersebut saling berkaitan dan memerlukan pendekatan yang komprehensif melalui penguatan nilai-nilai keagamaan.
Ia menilai MUI Jawa Timur memiliki posisi strategis untuk memperluas dakwah yang tidak hanya dilakukan di mimbar masjid, tetapi juga melalui media digital dan pembinaan keluarga agar mampu menjangkau generasi muda.
Sementara itu, Ketua MUI Jawa Timur Prof. Abdul Halim Subahar menyatakan kepengurusan baru berkomitmen memperkuat konsolidasi organisasi dan meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjawab persoalan umat.
Menurutnya, MUI Jawa Timur akan mengoptimalkan potensi ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim untuk menghadirkan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman sekaligus memperkuat ketahanan moral masyarakat.
Pengukuhan Pengurus MUI Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030 diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah dan ulama dalam menghadapi tantangan sosial, termasuk paparan pornografi pada anak, melalui dakwah, edukasi, dan pembinaan keluarga yang berkelanjutan.


