BerandaBela NegaraTerapkan Organik Bela Negara FKBN, Tanah Subur Hasil Melimpah

Terapkan Organik Bela Negara FKBN, Tanah Subur Hasil Melimpah

Terapkan Organik Bela Negara FKBN, Tanah Subur Hasil Melimpah

Lamongan, Inklusinews.com – Terapan Organik Bela Negara terbukti nyata meningkatkan PH tanah di beberapa lahan uji coba di beberapa tempat di Kabupaten Lamongan. Tanah pertanian dari awalnya rata-rata hanya 3,5 sampai 4,5 menjadi 7,0 (Normal-Red). Hasil ini sesuai dengan harapan dan para petani mengatakan bahwa pertanian mereka jadi sangat efektif dan efisien, lebih ekonomis, tidak mudah diserang hama penyakit seperti sundep, asem-aseman, termasuk jauh dari tikus, serta yang paling penting bagi petani adalah hasil panen melimpah naik, berhasil tanam.

Melihat pertanian di Desa Caron, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, di lahan demplot Bela Negara, Kader FKBN Sugio, milik Abu Syafi’i, pengujian dilakukan menggunakan alat ukur pH tanah untuk mengetahui tingkat keasaman tanah sebelum dan sesudah perlakuan.

Hasil awal menunjukkan PH tanah berada di angka 3,5 yang tergolong sangat asam dan kurang ideal bagi pertumbuhan tanaman. Namun, setelah diberikan agen penyubur tanah organik Bela Negara, hasil pengukuran ulang menunjukkan perubahan signifikan. Dalam waktu hanya beberapa jam saja, pH tanah meningkat menjadi 6,0 atau mendekati kondisi netral yang lebih baik untuk mendukung kesuburan tanah dan produktivitas pertanian.

Sementara itu, Sugianto petani asal Dusun Lebak, Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan mengatakan hal yang sama, bahwa sangat heran dalam waktu singkat kondisi PH lahan pertaniannya langsung dapat naik drastis dari 3,5 jadi 7,0 dalam waktu singkat, dan dirinya akan menerapkan metode terapan organik Bela Negara di musim tanam kali ini.

Keterangan lainnya, Petani muda milenial di Desa Sukolilo, Dusun Dukoh, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan juga merasakan manfaatnya setelah menerapkan sistem Terapan Organik Bela Negara ini.

Zaky, mengungkapkan bahwa dirinya telah menerapkan sistem pertanian organik selama kurang lebih satu tahun terakhir. Lahan yang digarapnya berada di Dusun Dukoh, Desa Sukolilo, Kecamatan Sukodadi, dengan luas sekitar 200 cengkal.

“Alhamdulillah, lahan saya relatif aman dari serangan penyakit. Padahal, di wilayah Sukodadi tahun ini banyak lahan yang terkena hama seperti kamper, sundep, dan santomonas,” ujar Zaky. Minggu, 3 Mei 2026.

Ia menjelaskan, serangan hama dan faktor cuaca yang tidak menentu menjadi penyebab utama menurunnya produktivitas pertanian di wilayah Sukodadi. Bahkan, diperkirakan sekitar 60 persen lahan pertanian di wilayah Sukodadi mengalami gagal panen atau penurunan hasil panen secara signifikan.

Namun, berbeda dengan lahan yang dikelola Zaky. Dengan metode pertanian organik Bela Negara, hasil panen yang diperoleh mengalami peningkatan cukup signifikan.

“Untuk lahan saya cengkal 200, panen kali ini bisa mencapai 1,7 Ton gabah kering sawah. Sedangkan sawah tetangga yang luasnya sama hasilnya di bawah 1 Ton malah banyak juga yang gagal panen sampai 60% petani sini,” jelasnya.

Penerapan sistem organik terbukti mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama sekaligus menjaga kualitas tanah. Ia juga membandingkan dengan lahan pertanian di sekitarnya yang masih menggunakan metode konvensional kimia.

“Terbukti, dibandingkan lahan tetangga kanan kiri, hasil panen saya masih lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa terapan organik cukup efektif, lebih ekonomis untuk penggunaan pupuk tapi hasil melimpah,” tambahnya.

Keberhasilan Terapan Organik Bela Negara FKBN ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi petani lain di Indonesia, khususnya petani di Kabupaten Lamongan, dapat di terapkan dan diikuti oleh para petani untuk mulai beralih ke sistem pertanian organik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, sekaligus mampu meningkatkan produktivitas di tengah tantangan perubahan iklim, kondisi tanah kurang bagus, PH rendah dan serangan hama yang semakin kompleks.

Hal ini juga harus mendapatkan dukungan dan perhatian negara, baik pemerintah pusat, daerah dan desa, demi masa depan Indonesia, dan bisa menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. (Red)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Berita Popular